Bismillahirrohmanirrohiim…
Assalamu’alaikum wa rahmatullahi wa barokaatuh.10-3-river

Segala puji bagi Allah, shalawat, serta salam semoga dilimpakan kepada Rasulullah, keluarga, sahabat dan para pengikutnya.

Ada banyak rahasia di balik apa yang disyari’atkan Allah subhanahu wa ta’ala. Ada banyak hikmah di balik hokum-hukum tang Allah tetapkan, ada banyak tujuan di balik apa yang Allah ciptakan. Di antara rahasia, hikmah dan tujuan ini ada yang diketahui oleh akal manusia; tetapi ada juga yang tidak dapat dijangkau olehnya. Berkenaan dengan sebagian hikmah puasa, Allah ta’ala berfirman:

““Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa ,” (QS.al-Baqarah: 183).

Sebab puasa adalah jalan menuju ketakwaan kepada Allah subhanahu wa ta’ala, dan orang yang berpuasa adalah orang yang yang terdekat dengan Rabb-nya. Saat perutnya kosong, hatinya bersih, ketika hatinya merasakan kepuasan, saat rongga perutnya merasakan haus matanya menangis. Di dalam sebuah hadits shahih Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

““Wahai para pemuda, barangsiapa di antara kalian telah mampu untuk menikah, hendaklah ia menikah. Sebab nikah dapat mengendalikan pandangan mata dan dapat menjaga kesucian farji. Orang yang tidak mampu, hendaknya ia berpuasa, sebab puasa baginya menjadi penawar.”

1. Puasa mempersempit aliran makanan dan darah yang notabene merupakan aliran setan, sehingga dengan demikian bisikannya menjadi sedikit.

2. Puasa melemahkan syahwat, hasrat jahat dan keinginan maksiat sehingga ruh menjadi tak ternoda.

3. Puasa mengingatkan orang yang berpuasa bahwa di antara saudara-saudaranya yang berpuasa ada yang kelaparan, yang membutuhkan, yang fakir, yang miskin. Sehingga ia berkenan mengasihi, menyayangi, dan menolong mereka.
““Wahai orang yang berpuasa yang meninggalkan makan demi menjaga kesucian diri. Yang memberi makan kepada orang yang sedang kelaparan dan dalam kesusahan. Bergembiralah dengan id-mu pada hari Kiamat yang akan dilimpahi rahmat yang dikelilingi dengan kebaikan dan kemurahan.”

4. Puasa adalah media pendidikan jiwa, pensucian hati, pengendalian pandangan, dan menjaga anggota tubuh dari dosa.

5. Puasa adalah rahasia antara hamba dengan Rabb-nya. Dalam sebuah hadits Qudsi shahih dijelaskan bahwa Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:
““Setiap amal putera Adam untuk dirinya, kecuali puasa, ia adalah untukku dan Aku sendiri yang akan membalasnya .”

Sebab tak ada yang mengetahui puasa seseorang kecuali Allah subhanahu wa ta’ala, berbeda dengan shalat, dan haji.

Para salaf yang shaleh mengenal puasa sebagai media pendekatan kepada Allah, medan pacu dalam kebaikan, musim berbuat kebaikan, maka mereka menangis karena gembira menyambutnya, dan menangis sedih karena berpisah dengannya.

Para salaf tahu benar tentang puasa, maka mereka mencinta Ramadhan, berusaha keras dalam bulan Ramadhan, mengorbankan diri mereka untuk Ramadhan, serta menjadikam malam sebagai saat untuk shalat, ruku’, sujud, menangis dan khusyu’; sedangkan siang digunakan untuk berdzikir, membaca al-Qur’an, mengajar, berdakwah, dan memberi nasehat.

Para salaf shaleh tahu benar tentang puasa sebagai hal yang menyenangkan mata dan menenangkan jiwa, melapangkan dada; Maka mereka mendidik jiwanya dengan tujuan-tujuan puasa, mensucikan jiwa dengan hikmah-hikmah puasa.

6. Para salaf, berdasarkan riwayat yang shahih, duduk di masjid dengan al-Qur’an, mereka membaca dan menangis, menjaga lidah dan mata dari hal-hal haram.

7. Puasa – wahai orang-orang yang berpuasa – adalah alat pemersatu kaum Muslimin, mereka berpuasa pada waktu yang bersamaan dan buka pada saat yang sama pula, merasakan lapar bersama, makan bersama, dengan rukun dan penuh persaudaraan, dengan cinta dan kesetiakawanan.

8. Puasa – wahai orang-orang yang berpuasa – adalah penghapus kesalahan dan penyirna kejahatan. Dalam sebuah hadits shahih Rasulullah bersabda:
“Dari satu Jum’at ke jum’at, dari satu Umroh ke umroh yang lain, dari satu Ramadhan ke ramadhan yang lain adalah kafarat (penghapusan dosa-dosa) selama bukan termasuk dosa besar.”

9. Puasa – wahai Ash-Shaaimun – sungguh sehat untuk tubuh, sebab ia mengosongkan perut dan semua materi yang destruktif, mengistirahatkan pencernaan, membersihkan darah, menormalkan kerja hati, ruh menjadi cerah, jiwa menjadi bersih, dan akhlak menjadi terbina karenanya.

10. Bila seseorang berpuasa, maka dirinya terasa kerdil di hadapan Allah, hatinya mudah trenyuh, rasa rakusnya menipis, syahwatnya sirna, sehingga dengan demikian do’anya dikabulkan karena kedekatannya dengan Allah subhanahu wa ta’ala.
11. Dalam puasa terdapat rahasia agung, yakni ketaatan menyembah Allah subhanahu wa ta’ala, patuh atas segala perintah-Nya, tunduk kepada syariat-Nya, meninggalkan hasrat makan, minum dan bersetubuh untuk mencari keridhaan-Nya.

12. Puasa merupakan kemenangan seorang Muslim mengalahkan hawa nafsunya, kemenangan seorang Muslim atas dirinya, ia setengah dari sabar. Maka orang yang tidak berpuasa tanpa udzur ia tidak akan pernah mampu mengendalikan dirinya, dan tak akan dapat mengalahkan hawa nafsunya.

13. Puasa adalah eksperimen luar biasa bagi jiwa agar ia berada pada kondisi siap 100% untuk menanggung beban dan menghadapi persoalan, siap menunaikan pekerjaan-pekerjaan penting dan agung seperti jihad fi sabilillah, menginfakkan harta benda di jalan Allah dan berkurban. Oleh karena itu, ketika Thalut hendak membunuh musuh-musuhnya, Allah menguji kaum Thalut dengan sebuah sungai. Thalut berkata kepada mereka:

“Maka tatkala Thalut keluar membawa tentaranya, ia berkata: “Sesungguhnya Allah akan menguji kamu dengan suatu sungai. Maka siapa di antara kamu meminum airnya, bukanlah ia pengikutku. Dan barang siapa tiada meminumnya, kecuali menceduk seceduk tangan, maka ia adalah pengikutku.” Kemudian mereka meminumnya kecuali beberapa orang di antara mereka. Maka tatkala Thalut dan orang-orang yang beriman bersama dia telah menyeberangi sungai itu, orang-orang yang telah minum berkata: “Tak ada kesanggupan kami pada hari ini untuk melawan Jalut dan tentaranya.” Orang-orang yang meyakini bahwa mereka akan menemui Allah berkata: “Berapa banyak terjadi golongan yang sedikit dapat mengalahkan golongan yang banyak dengan izin Allah. Dan Allah beserta orang-orang yang sabar.” (QS.al-Baqarah: 249).

Barangkali sebagian hikmah puasa tersimpul dalam taqwa kepada Allah subhanahu wa ta’ala, taat kepada perintah-Nya, menundukkan hawa nafsu, mengendalikan diri, mempersiapkan Muslim untuk siap berkurban dan mengendalikan seluruh anggota tubuh, mengendalikan syahwat, menyehatkan badan, menghapus dosa-dosa, persatuan dan persaudaraan, merasakan lapar orang-orang yang lapar, dan merasakan kebutuhan orang-orang yang kekurangan materi. Wallahu a’lam.
2124445424_4b7741ccfd_t

~ oleh jakalaut pada September 15, 2009.

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.